Devin27's Blog

Just another WordPress.com weblog

Sertifikat Kursus Juni 11, 2010

Filed under: Uncategorized — devin27 @ 8:47 am

 

Nabi Muhammad SAW : Penemu Konsep Manajemen Bisnis Modern Juni 9, 2010

Filed under: Uncategorized — devin27 @ 1:25 pm

Sebagai Rasul terakhir Allah SWT, Nabi Muhammad SAW tercatat dalam sejarah adalah pembawa kemaslahatan dan kebaikan yang tiada bandingan untuk seluruh umat manusia. Bagaimana tidak karena Rasulullah SAW telah membuka zaman baru dalam pembangunan peradaban dunia. Beliaulah adalah tokoh yang paling sukses dalam bidang agama (sebagai Rasul) sekaligus dalam bidang duniawi (sebagai pemimpin negara dan peletak dasar peradaban Islam yang gemilang selama 1000 tahun berikutnya).

Kesuksesan Rasulullah SAW itu sudah banyak dibahas dan diulas oleh para ahli sejarah Islam maupun Barat. Namun ada salah satu sisi Muhammad SAW ternyata jarang dibahas dan kurang mendapat perhatian oleh para ahli sejarah maupun agama yaitu sisinya sebagai seorang pebisnis ulung. Padahal manajemen bisnis yang dijalankan Rasulullah SAW hingga kini maupun di masa mendatang akan selalu relevan diterapkan dalam bisnis modern. Setelah kakeknya yang merawat Muhammad SAW sejak bayi wafat, seorang pamannya yang bernama Abu Thalib lalu memeliharanya.

Abu Thalib yang sangat menyayangi Muhammad SAW sebagaimana anaknya sendiri adalah seorang pedagang. Sang paman kemudian mengajari Rasulullah SAW cara-cara berdagang (berbisnis) dan bahkan mengajaknya pergi bersama untuk berdagang meninggalkan negerinya (Makkah) ke negeri Syam (yang kini dikenal sebagai Suriah) pada saat Rasulullah SAW baru berusia 12 tahun. Tidak heran jika beliau telah pandai berdagang sejak berusia belasan tahun. Kesuksesan Rasulullah SAW dalam berbisnis tidak terlepas dari kejujuran yang mendarah daging dalam sosoknya.

Kejujuran itulah telah diakui oleh penduduk Makkah sehingga beliau digelari Al Shiddiq. Selain itu, Muhammad SAW juga dikenal sangat teguh memegang kepercayaan (amanah) dan tidak pernah sekali-kali mengkhianati kepercayaan itu. Tidak heran jika beliau juga mendapat julukan Al Amin (Terpercaya). Menurut sejarah, telah tercatat bahwa Muhammad SAW melakukan lawatan bisnis ke luar negeri sebanyak 6 kali diantaranya ke Syam (Suriah), Bahrain, Yordania dan Yaman. Dalam semua lawatan bisnis, Muhammad selalu mendapatkan kesuksesan besar dan tidak pernah mendapatkan kerugian.

Lima dari semua lawatan bisnis itu dilakukan oleh beliau atas nama seorang wanita pebisnis terkemuka Makkah yang bernama Khadijah binti Khuwailid. Khadijah yang kelak menjadi istri Muhammad SAW, telah lama mendengar reputasi Muhammad sebagai pebisnis ulung yang jujur dan teguh memegang amanah. Lantaran itulah, Khadijah lalu merekrut Muhammad sebagai manajer bisnisnya. Kurang lebih selama 20 tahun sebelum diangkat menjadi Nabi pada usia 40 tahun, Muhammad mengembangkan bisnis Khadijah sehingga sangat maju pesat. Boleh dikatakan bisnis yang dilakukan Muhammad dan Khadijah (yang menikahinya pada saat beliau berusia 25 tahun) hingga pada saat pengangkatan kenabian Muhammad adalah bisnis konglomerat.

Pola manajemen bisnis apa yang dijalankan Muhammad SAW sehingga bisnis junjungan kita itu mendapatkan kesuksesan spektakuler pada zamannya ? Ternyata jauh sebelum para ahli bisnis modern seperti Frederick W. Taylor dan Henry Fayol pada abad ke-19 mengangkat prinsip manajemen sebagai sebuah disiplin ilmu, ternyata Rasulullah SAW telah mengimplementasikan nilai-nilai manajemen modern dalam kehidupan dan praktek bisnis yang mendahului masanya. Berdasarkan prinsip-prinsip manajemen modern, Rasulullah SAW telah dengan sangat baik mengelola proses, transaksi, dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlihat di dalamnya.

Seperti dikatakan oleh Prof. Aflazul Rahman dalam bukunya “Muhammad: A Trader” bahwa Rasulullah SAW adalah pebisnis yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis. Ia tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh. Dia sering menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Muhammad SAW pun senantiasa menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dalam berbisnis. Dengan kata lain, beliau melaksanakan prinsip manajemen bisnis modern yaitu kepuasan pelanggan (customer satisfaction), pelayanan yang unggul (service exellence), kemampuan,efisiensi, transparansi (kejujuran), persaingan yang sehat dan kompetitif.

Dalam menjalankan bisnis, Muhammad SAW selalu melaksanakan prinsip kejujuran (transparasi). Ketika sedang berbisnis, beliau selalu jujur dalam menjelaskan keunggulan dan kelemahan produk yang dijualnya. Ternyata prinsip transparasi beliau itu menjadi pemasaran yang efektif untuk menarik para pelanggan. Beliau juga mencintai para pelanggannya seperti mencintai dirinya sehingga selalu melayani mereka dengan sepenuh hatinya (melakukan service exellence) dan selalu membuat mereka puas atas layanan beliau (melakukan prinsip customer satisfaction).

Dalam melakukan bisnisnya, Muhammad SAW tidak pernah mengambil margin keuntungan sangat tinggi seperti yang biasa dilakukan para pebisnis lainnya pada masanya. Beliau hanya mengambil margin keuntungan secukupnya saja dalam menjual produknya.Ternyata kiat mengambil margin keuntungan yang dilakukan beliau sangat efektif, semua barang yang dijualnya selalu laku dibeli Orang-orang lebih suka membeli barang-barang jualan Muhammad daripada pedagang lain karena bisa mendapatkan harga lebih murah dan berkualitas. Dalam hal ini, beliau melakukan prinsip persaingan sehat dan kompetitif yang mendorong bisnis semakin efisien dan efektif.

Boleh dikatakan Rasulullah SAW adalah pelopor bisnis yang berdasarkan prinsip kejujuran, transaksi bisnis yang adil dan sehat. Beliau juga tidak segan mensosialisasikan prinsip-prinsip bisnisnya dalam bentuk edukasi dan pernyataan tegas kepada para pebisnis lainnya. Ketika menjadi kepala negara, Rasulullah SAW mentransformasikan prinsip-prinsip bisnisnya menjadi pokok-pokok hukum. Berdasarkan hal itu, beliau melakukan penegakan hukum pada para pebisnis yang nakal. Beliau pula yang memperkenalkan asas “Facta Sur Servanda” yang kita kenal sebagai asas utama dalam hukum perdata dan perjanjian. Di tangan para pihaklah terdapat kekuasaan tertinggi untuk melakukan transaksi bisnis yang dibangun atas dasar saling setuju.

Berdasarkan apa yang dibahas di atas ini, jelas junjungan yang kita cintai itu adalah pebisnis yang melaksanakan manajemen bisnis yang mendahului zamannya. Bagaimana tidak karena prinsip-prinsip manajemen Rasulullah SAW baru dikenal luas dan diimplementasikan para pebisnis modern sejak abad ke-20, padahal Rasulullah SAW hidup pada abad ke-7. Pakar manejemen bisnis terkemuka Indonesia, Rhenald Kasali pun mengakuinya dengan mengatakan bahwa semua bisnis yang diinginkan niscaya juga akan sukses jika mau menduplikasi karakter Muhammad SAW dalam berbisnis. Dengan begitu, kita dapat mengatakan kepada pelaku bisnis, “Ingin bisnis sukses, jalankan manajemen bisnis Muhammad SAW!” Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

source : Fachri – http://www.sekarangonline.com/artikel_read.htm?id=13

Sumber : http://sunatullah.com/tulisan-artikel/nabi-muhammad-saw-penemu-konsep-manajemen-bisnis-modern.html

 

Kucoba

Filed under: Uncategorized — devin27 @ 1:06 pm

Kucoba

by tinkerbell

Kucoba tuk bertahan walauku harus terluka

Setelah smua rasa, tlah pergi meningggalkanku

Semua hal terasa, menyakitkan disaat diriku sendiri

Dan terdiam tak dapat kulangkahkan tuk coba berdiri lagi

Kutak kuasa tuk menahan segala penat didada

Tuk hilangkan rasa, sepih dan sedih dihatiku

Dan smua hal terasa, menyakitkan disaat diriku sendiri

Dan terdiam tak dapat kulangkahkan tuk coba berdiri lagi…

Disaat dunia tlah tenggelam dan tak peduli yang kulakukan

Disaat waktu tlah pergi meniggalkan

Biarkanlah…Fikirku melayang tinggi

Jangan tinggalkan…Diriku dalam kisah kita

Lupakanlah…Segala apa yang terjadi

Hempaskanlah…Semua

Sampai suatu saat kau akan kembali

Sumber : http://www.myspace.com/tinkersucksbell

 

Luka Hati

Filed under: Uncategorized — devin27 @ 12:50 pm

Luka hati

February 7, 2009 by Evan
Filed under Kegagalan

Aku disini terdiam
Tersentak tanpa kata
Seakan dunia gelap oleh kabut
Seolah cahaya hilang di telannya

Ku mencintai bukan membenci
Ketika ku coba untuk memahami
Arti cinta sebnarnya
Tapi kenapa hanya luka yang ku dapat

Kini ku coba untuk merajut kembali sehelai demi sehelai
Ketika rajutan itu akan utuh kau hancurkan dengan
Dengan sebuah silet tajam
Kau sayat seolah kau tak mempuyai rasa

Aku hanya bisa terdiam melihatnya
Seakan pasrah dengan semua
Karma ku mencintai
Buka ,aku yang di cintai

Semoga kau bahagia
Dengan luka ku ini
Semoga kau tenang
Dengan pederitaan hati

Sesungguhnya tuhan melihat
Mendengar
Dan mersakan
Apa yg kurasa
Dia tak diam
Tapi dia selalu mendengar do’a ku

Suatu saat kau akan tau
Arti cinta sebenar nya..

Sumber : http://www.puisiku.net/tema-kesedihan/kegagalan-tema-kesedihan/luka-hati.htm

 

Aku Yang Mencintaimu

Filed under: Uncategorized — devin27 @ 12:49 pm

Aku Yang Mencintaimu

July 8, 2008 by monccoz09
Filed under Cinta 2 Insan

Hingga detik inipun,Kamu tak berhenti menyayangiku…
Tak pernah berhenti setiap waktu,Kamu mengatakan Cinta padaku…
Meskipun hari telah larut,Kamu tak letih menunggu…
Setiap kali kulakukan kesalahan,Kamu tetap sabar menjagaku…
Saat Aku lupa akan perhatianmu,Kamu masih ada disitu menemaniku…
Dan ketika Aku Rindu,untuk bersamamu,Kamu memelukku…
Aku…
Sangat mencintaimu…
Sampai kapanpun…
Hingga Kamu tak memiliki rasa lagi padaku…
Aku…
Terlalu mencintaimu…
Sampai kapanpun…
Hingga Kamu menerima Cincin itu di jemarimu…

Sumber : http://www.puisiku.net/tema-cinta/cinta-2-insan/aku-yang-mencintaimu.htm

 

Sang Primadona

Filed under: Uncategorized — devin27 @ 12:42 pm

Sang Primadona

Cerpen A. Mustofa Bisri

Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.

Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah– kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi “primadona” keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.

Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun –alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.

Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.

Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.

Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.

Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, “Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup.”

Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.

Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.

“Nduk, ibadah itu penting. Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!”

“Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang.”

“Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim.”

Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.

Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja. Hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.

Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.

Begitulah, di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku.

Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.

Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.

Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka.

Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Apakah ini sekadar pelarian ataukah –mudah-mudahan– memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.

Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Tidak itu saja, aku juga getol membaca buku-buku keagamaan.

Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi “asisten”-nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat.

Ringkas cerita; dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi “tokoh masyarakat” yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan “Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona”. Aku pun harus memenuhi undangan-undangan –bukan sekadar menjadi “penarik minat” seperti dulu– sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.

Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.

Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.

Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: “Ini milik siapa, Bu?”

“Apa itu?” tanyaku tak mengerti.
“Ini barang berbahaya, Bu,” sahutnya khawatir, “Ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!”
“Masya Allah!” Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.

Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.

Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar –dan pasti akan mendengar– idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.

Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!***

Sumber : http://kumpulan-cerpen.blogspot.com/2005/12/sang-primadona.html

 

MANAJEMEN STRATEGIK SEKTOR PUBLIK : LANGKAH TEPAT MENUJU GOOD GOVERNANCE

Filed under: Uncategorized — devin27 @ 12:40 pm
MANAJEMEN STRATEGIK SEKTOR PUBLIK : LANGKAH TEPAT MENUJU
GOOD GOVERNANCE
Icuk Rangga Bawono
Dosen Fakultas Ekonomi UNSOED Purwokerto
ABSTRACT
This article discuss about strategic management in public sector organization to
implement good governance. In the first part will describe the preface. The second part
will explain about governance and good governance. In the third part will describe about
strategic management. Strategic management in public sector organization will be
described in the fourth part. The fifth part will discuss about the SWOT analysis as one
tool of strategic management. The last part will discuss about the conclusion.
Keywords :
Good Governance, Stratetegic Management
Pendahuluan
Good governance
merupakan semboyan yang sedang gencar – gencarnya
dipromosikan  oleh pemerintah. Semboyan itu sekilas memang suatu hal yang sangat di
dambakan oleh semua sektor baik publik maupun swasta mengingat efek domino yang
dapat diwujudkan dari implementasi
good governance
. Efek domino yang dimaksud
antara lain sebagai berikut
Pertama, implementasi
good governance
cenderung membawa efisiensi dan
efektivitas dalam dunia usaha. Hal ini karena implementasi
good governance
yang baik
dapat memotong kos tinggi
(high cost)
yang disebabkan adanya pungutan liar (pungli)
yang dilakukan oleh oknum birokrasi pemerintah dan oknum aparat di lapangan. Hasil
studi dari Pusat Studi Asia Pasifik Universitas  Gadjah Mada bekerja sama dengan
United
State Agency for International Development (USAID)
melakukan survei terhadap 100
perusahaan dari Jawa, Sumatra dan Bali. Dalam studi itu disebutkan, pelaku usaha
mengungkapkan pendapat yang berbeda-beda mengenai pungli. Kebanyakan dari
responden enggan untuk menjawab kuisioner atau takut untuk menjawab kuisioner yaitu
sebanyak 41 %. Namun, diperkirakan, biaya pungli itu bisa mencapai 7,5 persen dari
biaya ekspor. Penelitian itu kemudian mengasumsikan apabila nilai ekspor produk
manufaktur sebesar Rp 4 juta per peti kemas, biaya pungli itu sendiri mencapai Rp

300.000 per peti kemas. Jika Indonesia mengekspor produk hingga mencapai 10 juta peti
kemas per tahun, maka biaya pungli mencapai Rp 3 triliun. Penelitian itu juga
menyebutkan bahwa pungli paling sering terjadi di jalan yaitu sebesar 48% dan terjadi di
pelabuhan sebanyak 35%. Hal yang paling disayangkan lagi bahwa 24% responden
menjawab bahwa pungli paling sering dilakukan oleh oknum polisi, 21% dilakukan oleh
oknum bea cukai dan yang lebih mengejutkan bahwa aparat oknum pemerintah daerah
(PEMDA) yang selama ini disebut – sebut sering mempersulit pengurusan hanya 3% dari
responden yang menjawab mengenakan pungutan liar ini (Kompas 28 Juli 2004).
Kedua, implementasi
good governance
akan membawa birokrasi pemerintahan
Indonesia ke dalam sistem birokrasi yang sehat dan bermutu. Menurut survei yang
dilakukan oleh
Political and Economic Risk Consultancy (PERC)
terhadap para eksekutif
bisnis asing, birokrasi Indonesia pada tahun 2000 memperoleh skor 8.0 dan tidak
mengalami perbaikan dibandingkan tahun 1999, walaupun pencapaian ini masih lebih
baik dibandingkan Negara lain seperti Cina, Vietnam dan India (Kompas 13 Maret 2000).
Senada dengan survei yang dilakukan PERC, Booz – Allen & Hamilton juga melakukan
survei terhadap indeks
good governance
, indeks korupsi dan indeks efisiensi peradilan.
Hasilnya Indonesia menempati urutan paling belakang dari lima negara. Indeks
good
governance
Indonesia mendapat skor 2,88 jauh dibawah Malaysia 7,72 apalagi bila
dibandingkan dengan Singapura 8,93 ( Irwan, 2000).
Ketiga, implementasi
good governance
dalam sektor publik akan membawa
dampak yang baik tidak hanya kepada pemerintah tetapi juga kepada masyarakat sebagai
stakeholder
. Pemerintah melalui departemen, badan usaha milik Negara (BUMN), Badan
Usaha milik Daerah (BUMD) tidak hanya sebagai perusahaan dan abdi masyarakat yang
hanya bermotifkan laba tetapi juga dapat memberikan pelayanan yang baik terhadap
masyarakat. Pelayanan yang baik tersebut akan membawa kesejahteraan dan keadilan
dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan karena masyarakat cukup
mengeluarkan dana tertentu yang relatif terjangkau untuk
charge of services
yang
dikenakan pemerintah kepada masyarakat. Semakin terjangkau biaya yang dikeluarkan
oleh masyarakat maka relatif semakin banyak kebutuhan yang dapat terpenuhi dengan
sejumlah dana tertentu. Selain itu dengan adanya kecepatan, ketepatan dan kepastian
dalam pelayanan juga akan mengurangi kos yang harus dikeluarkan masyarakat untuk
mendapatkan suatu pelayanan.
Governance
dan
Good Governance

Governance dan good governance
banyak didefinisikan berbeda menurut para
ahli, namun dari perbedaan definisi dan pengertian tersebut dapat ditarik benang merah
yang dapat mengakomodasi semua pendapat para ahli tersebut.
Governance
dapat
diartikan sebagai cara mengelola urusan – urusan publik (Mardiasmo, 2004:17).
Sedangkan menurut
World Bank governance
adalah
“the way state power is used
in managing economic and social resources for development of society“,
dimana
world
bank
lebih menekankan pada cara yang digunakan dalam mengelola sumber daya
ekonomi dan sosial untuk kepentingan pembangunan masyarakat (Mardiasmo,2004:17).
Menurut
United Nation Development Program
(UNDP) mendefinisikan
governance
adalah
“the exercise of political, economic and administrative authority to
manage a nation’s affair at all levels“.
Dari definisi UNDP tersebut
governance
memiliki tiga kaki
(three legs)
, yaitu :
1.
Economic governance
meliputi proses pembuatan keputusan
(decision making
processes)
yang memfasilitasi terhadap
equity, poverty
dan
quality of live
.
2.
Political governance
adalah proses keputusan untuk formulasi kebijakan.
3.
Administrative governance
adalah sistem implementasi proses kebijakan
(Sedarmayanti, 2003:4).
Oleh karena itu institusi dari
governance
meliputi tiga domain, yaitu
state
(negara atau pemerintah),
private sector
(sektor swasta atau dunia usaha) dan
society
(masyarakat), yang saling berinteraksi dan menjalankan fungsinya masing – masing.
state
berfungsi menciptakan lingkungan politik dan hukum yang kondusif,
private sector
menciptakan pekerjaan dan pendapatan, sedangkan
society
berperan positif dalam
interaksi sosial, ekonomi dan politik, termasuk mengajak kelompok dalam masyarakat
untuk berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi, sosial dan politik (Sedarmayanti, 2003:5).
Good Governance
UNDP mendefinisikan
good governance
sebagai
“the exercise of political,
economic and social resources for development of society“
penekanan utama dari definisi
diatas adalah pada aspek ekonomi, politik dan administratif dalam pengelolaan negara.
Pendapat ahli yang lain mengatakan
good
dalam
good governance
mengandung
dua pengertian sebagai berikut. Pertama, nilai yang menjunjung tinggi keinginan atau
kehendak rakyat, dan nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam
pencapaian tujuan (nasional), kemandirian, pembangunan berkelanjutan dan keadilan
sosial. Kedua, aspek fungsional dari pemerintahan yang efektif dan efisien dalam

pelaksanaan tugasnya untuk mencapai tujuan tersebut. Berdasarkan pengertian ini,
good
governance
berorientasi pada :
1.  Orientasi ideal, Negara yang diarahkan pada pencapaian tujuan nasional.
Orientasi ini bertitik tolak pada demokratisasi dalam kehidupan bernegara
dengan elemen konstituennya seperti :
legitimacy
(apakah pemerintah) dipilih
dan mendapat kepercayaan dari rakyat,
accountability
(akuntabilitas),
securing of
human rights autonomy and devolution of power
dan
assurance of civilian
control.
2.  Pemerintahan yang berfungsi secara ideal, yaitu secara efektif dan efisien dalam
melakukan upaya mencapai tujuan nasional. Orientasi kedua ini tergantung pada
sejauh mana pemerintah mempunyai kompetensi dan sejauh mana struktur serta
mekanisme politik serta administratif berfungsi secara efektif dan efisien.
(Sedarmayanti, 2003:6)
Menurut UNDP karakteristik pelaksanaan
good governance
meliputi
(Mardiasmo,2004:18) :
1.
Participation
. Keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan baik secara
langsung maupun tidak langsung melalui lembaga perwakilan yang dapat
menyalurkan aspirasinya. Partisipasi tersebut dibangun atas dasar kebebasan
berasosiasi dan berbicara serta partisipasi secara konstruktif.
2.
Rule of law
. Kerangka hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu.
3.
Transparency
. Transparansi dibangun atas dasar kebebasan memperoleh
informasi. Informasi yang berkaitan dengan kepentingan public secara langsung
dapat diperoleh oleh mereka yang membutuhkan.
4.
Responsiveness
. Lembaga – lembaga publik harus cepat dan tanggap dalam
melayani
stakeholders
.
5.
Consensus of orientation
. Berorientasi pada kepentingan masyarakat yang lebih
luas.
6.
Equity
. Setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh
kesejahteraan dan keadilan.
7.
Efficiency and effectiveness
. Pengelolaan sumber daya publik dilakukan secara
berdaya guna (efisien) dan berhasil guna (efektif).
8.
Accountability.
Pertanggungjawaban kepada publik atas setiap aktivitas yang
dilakukan
9.
Strategic vision
. Penyelenggara pemerintahan dan masyarakat harus memiliki
visi jauh kedepan

Dari kesembilan karakteristik tersebut, paling tidak terdapat tiga hal yang dapat
diperankan oleh akuntansi sektor publik yaitu penciptaan transparansi, akuntabilitas
publik dan
value for money
(
economy, efficiency
dan
effectiveness
).
Manajemen Strategi
Manajemen strategi terdiri atas dua suku kata yang dapat dipilah menjadi kata
manajemen dan strategi.
Manajemen merupakan serangkaian proses yang terdiri atas perencanaan
(planning)
,
pengorganisasian
(organizing)
, pelaksanaan
(actuating)
, pengawasan
(controlling)
dan
penganggaran
(budgeting)
(Nawawi, 2003:52).
Unsur – unsur yang ada dalam manajemen tersebut apabila dijabarkan dalam
penjelasan adalah sebagai berikut :
1.  Perencanaan
(Planning)
Suatu organisasi dapat terdiri atas dua orang atau lebih yang bekerja sama dengan
cara yang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan. Perencanaan sebagai salah
satu fungsi manajemen mempunyai beberapa pengertian sebagai berikut: (1)
Pemilihan dan penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, langkah,
kebijaksanaan, program, proyek, metode dan standar yang dibutuhkan untuk
mencapai tujuan. (2) Pemilihan sejumlah kegiatan untuk diterapkan sebagai
keputusan tentang apa yang harus dilakukan, kapan dan bagaimana akan
dilakukan serta siapa yang akan melaksanakannya. (3) Penetapan secara
sistematis pengetahuan tepat guna untuk mengontrol dan mengarahkan
kecenderungan perubahan menuju kepada tujuan yang telah ditetapkan. (4)
Kegiatan persiapan yang dilakukan melalui perumusan dan penetapan keputusan,
yang berisi langkah – langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu
pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu.
2.  Pengorganisasian
(Organizing)
Merupakan sistem kerjasama sekelompok orang, yang dilakukan dengan
pembidangan dan pembagian seluruh pekerjaan atau tugas dengan membentuk
sejumlah satuan atau unit kerja, yang menghimpun pekerjaan sejenis dalam
satu – satuan kerja. Kemudian dilanjutkan dengan menetapkan wewenang dan
tanggungjawab masing – masing diikuti dengan mengatur hubungan kerja baik
secara vertikal maupun horizontal.
3.  Pelaksanaan
(Actuating)

Pelaksanaan atau penggerakan dilakukan organisasi setelah sebuah organisasi
memiliki perencanaan dan melakukan pengorganisasian dengan memiliki
struktur organisasi termasuk tersedianya personil sebagai pelaksana sesuai
dengan kebutuhan unit atau satuan kerja yang dibentuk.
4.  Penganggaran
(Budgeting)
Merupakan salah satu fungsi manajemen yang sangat penting peranannya.
Karena fungsi ini berkaitan tidak saja dengan penerimaan, pengeluaran,
penyimpanan, penggunaan dan pertanggungjawaban namun lebih luas lagi
berhubungan dengan kegiatan tatalaksana keuangan. Kegiatan fungsi anggaran
dalam organisasi sektor publik menekankan pada pertanggungjawaban dan
penggunaan sejumlah dana secara efektif dan efisien. Hal ini disebabkan karena
dana yang dikelola tersebut merupakan dana masyarakat yang dipercayakan
kepada organisasi sektor publik.
5.  Pengawasan
(Control)
Pengawasan atau kontrol harus selalu dilaksanakan pada organisasi sektor publik.
Fungsi ini dilakukan oleh manajer sektor publik terhadap pekerjaan yang
dilakukan dalam satuan atau unit kerjanya. Kontrol diartikan sebagai proses
mengukur
(measurement)
dan menilai
(evaluation)
tingkat efektivitas kerja
personil dan tingkat efisiensi penggunaan sarana kerja dalam memberikan
kontribusi pada pencapaian tujuan organisasi.
Sedangkan kata yang kedua adalah strategi yang berasal dari bahasa Yunani
strategos
atau
strategeus
dengan kata jamak strategi.
Strategos
berarti jenderal, namun
dalam Yunani kuno sering berarti perwira negara
(state officer)
dengan fungsi yang luas
(Salusu 2003 :85 ). Pendapat yang lain mendefinisikan strategi sebagai kerangka kerja
(frame work)
, teknik dan rencana yang bersifat spesifik atau khusus (Rabin et.al, 2000 :
xv). Hamel dan Prahalad dalam Umar (2002) menyebutkan kompetensi inti sebagai suatu
hal yang penting. Mereka mendefinisikan strategi menjadi :
Strategi merupakan tindakan yang bersifat
incremental
( senantiasa meningkat ) dan terus –
menerus, serta dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para
pelanggan di masa depan. Dengan demikian, strategi hampir selalu dimulai dari apa yang dapat
terjadi dan bukan dimulai dengan apa yang terjadi. Terjadinya kecepatan inovasi pasar yang baru
dan perubahan pola konsumen memerlukan kompetensi inti
(core competencies)
. Perusahaan perlu
mencari kompetensi inti di d alam bisnis yang dilakukan.
Pengertian strategi kemudian berkembang dengan adanya pendapat John Von
Neumann seorang ahli matematika dan Oskar Morgenstern  seorang ahli ekonomi.

Mereka memasukkan istilah
games
dan adanya faktor yang sama dalam
games
yang
sesungguhnya. Mereka pun mengakui bahwa teori
games
sesungguhnya adalah teori
strategi (Mc Donald dalam Salusu 2003 : 87). Teori menyebutkan dua atribut utama yang
harus senantiasa diingat yaitu ketrampilan dan kesempatan dimana keduanya merupakan
kontribusi bagi setiap situasi stratejik. Situasi stratejik merupakan suatu interaksi antara
dua orang atau lebih yang masing – masing mendasarkan tindakannya pada harapan
tentang tindakan orang lain yang tidak dapat ia kontrol, dan hasilnya akan tergantung
pada gerak – gerik perorangan dari masing – masing pemeran (Salusu 2003 : 87)
Apabila dijadikan satu kesatuan manajemen strategi merupakan pendekatan
sistematis untuk memformulasikan, mewujudkan dan monitoring strategi (Toft dalam
Rabin et.al 2000:1). Pendapat lain dikemukakan oleh Thompson (2003)
Manajemen strategi merujuk pada proses manajerial untuk membentuk visi strategi,
penyusunan obyektif, penciptaan strategi mewujudkan dan melaksanakan strategi dan kemudian
sepanjang waktu melakukan penyesuaian dan koreksi terhadap visi, obyektif strategi dan
pelaksanaan tersebut.
Sedangkan Siagian (2004) mendefinisikan manajemen stratejik sebagai berikut :
Serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang dibuat oleh manajemen puncak dan
diimplementasikan oleh seluruh jajaran suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan
organisasi tersebut.
Manajemen Stratejik Sektor Publik
Manajemen stratejik tidak hanya digunakan pada sektor swasta tetapi juga sudah
diterapkan pada sektor publik. Penerapan manajemen stratejik pada kedua jenis institusi
tersebut tidaklah jauh berbeda, hanya pada organisasi sektor publik tidak menekankan
tujuan organisasi pada pencarian laba tetapi lebih pada pelayanan. Menurut Anthony dan
Young dalam Salusu (2003) penekanan organisasi sektor publik dapat diklasifikasikan ke
dalam 7 hal yaitu: (1) Tidak bermotif mencari keuntungan. (2) Adanya pertimbangan
khusus dalam pembebanan pajak. (3) Ada kecenderungan berorientasi semata – mata
pada pelayanan. (4) Banyak menghadapi kendala yang besar pada tujuan dan strategi. (5)
Kurang banyak menggantungkan diri pada kliennya untuk mendapatkan bantuan
keuangan (6) Dominasi profesional. (7) Pengaruh politik biasanya memainkan peranan
yang sangat penting. Seorang ahli bernama Koteen menambahkan satu hal lagi yaitu
less

responsiveness bureaucracy
dimana menurutnya birokrasi dalam organisasi sektor publik
sangat lamban dan berbelit – belit. Sedangkan pada sektor swasta penekanan utamanya
pada pencarian keuntungan atau laba dan tentunya kelangsungan hidup organisasi melalui
strategi dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Untuk membuktikan perlunya manajemen sektor publik dalam organisasi sektor
publik banyak penelitian yang mengupas pentingnya manajemen stratejik pada sektor
publik. Penelitian Roberts dan Menker dalam Rabin et.al mengupas mengenai
manajemen stratejik pada pemerintah pusat di Amerika Serikat hasilnya mereka
megusulkan adanya pendekatan baru dalam manajemen sektor publik yaitu pendekatan
generatif selain pendekatan yang sudah ada yaitu pendekatan direktif dan pendekatan
adaptif. Pendekatan direktif merupakan pendekatan yang bersifat dari atas ke bawah
(top – down)
dan lebih sedikit melibatkan anggota dalam organisasi sektor publik.
Pendekatan adaptif lebih menekankan pada kebersamaan dalam organisasi dalam
menetapkan tujuan pelaksanaan dan evaluasi. Sedangkan pendekatan generatif
menekankan pada pentingnya seorang pemimpin
(leader)
dalam melakukan fungsi
penetapan tujuan, pelaksanaan dan evaluasi dengan tidak mengesampingkan anggota lain
dalam organisasi sektor publik.
Penelitian lainnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Kilimurray et al dalam
rabin et al. Penelitian tersebut dilakukan untuk mengetahui perencanaan stratejik yang
ada dalam dinas pertolongan anak di Amerika Serikat. Hasilnya pada dinas pertolongan
anak menjalankan perencanaan stratejik berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku
di Amerika Serikat. Selain itu dinas pertolongan anak melakukan perencanaan stratejik
dengan mengembangkan 5 hal utama yaitu: (1) Implementasi rencana, dimana hal ini
merupakan dasar dari orientasi manajemen yang ditetapkan, pada implementasi rencana
tujuan dan obyektif disusun untuk mengevaluasi kinerja dari kantor prtolongan anak. (2)
Indikator kinerja, indikator kinerja sepakat untuk disusun dalam rangka menilai kesulitan
dalam mengumpulkan data dan memprogram ulang sistem otomatisasi. (3) Reformasi
kesejahteraan, dengan adanya peraturan mengenai reformasi kesejahteraan maka negara
bagian sebagai partner harus melakukan perubahan terhadap perencanaan stratejik,
pelaporan data, indikator kinerja dan pendanaan dari pemerintah pusat. (4) Kesepakatan
kinerja, sebelum adanya implementasi Undang – undang mengenai kinerja setiap negara
bagian sudah memiliki standard masing – masing mengenai kinerja organisasi sektor
publik. Adanya Undang – undang tersebut merubah  kesepakatan kinerja antara negara
bagian dan pemerintah pusat. Hal itu dikembangkan dengan kesepakatn antara negara
bagian dan pemerintah pusat dalam rangka menyeragamkan standar yang sudah ada
sebelumnya. (5) Pemeriksaaan
(Audit)
, dimasa yang akan datang divisi audit akan

menekankan pada validitas data yang diberikan oleh negara bagian, karena pada masa
sekarang kepatuhan Negara bagian hanya dibuktikan oleh statuta.
Penelitian berikutnya adalah penelitian terhadap manajemen stratejik yang
dilakukan oleh kantor dinas pajak Amerika Serikat dibantu oleh kantor akuntan publik
Pricewaterhouse Coopers dengan obyek penelitian pada kantor dinas pajak pemerintah
pusat yang berlokasi di Washington D.C. Penelitian ini melihat tahapan manajemen
stratejik dari awal yaitu dengan mengembangkan
multiyear budget
yaitu penganggaran
yang dilakukan dalam waktu yang panjang dimana dalam proses ini belum terdapat visi,
obyektif, tujuan dan pengukuraan kinerja. Kemudian proses ini berubah menjadi secara
perencanaan stratejik bisnis
(strategic business plan)
dimana sudah adanya visi dan misi
organisasi namun masih meletakan penganggaran diluar sistem sehingga sering program
tidak dapat berjalan dengan baik karena adanya keterbatasan anggaran. Tahapan ini juga
belum terdapat penilaian kinerja dan program dijalankan cenderung mengacu pada proses
coba – coba
(trial and error)
sehingga banyak program yang tidak berjalan secara efektif
dan efisien. Tahapan selanjutnya dikembangkan suatu proses yaitu perencanaan utama
bisnis
(the business master plan)
. Tahapan ini organisasi melakukan perubahan dengan
lebih menekankan pada restrukturisasi organisasi, program sumber daya manusia,
program operasional dan tidak melupakan modernisasi sistem. Namun kembali lagi
penganggaran tidak mempunyai hubungan yang kuat dengan program yang akan
dijalankan sehingga tidak adanya prioritas dalam program. Perubahan terakhir terhadap
manajemen stratejik yang ada dalam kantor dinas pajak pemerintah pusat di Amerika
Serikat yaitu dengan menerapkan perencanaan stratejik dan penganggaran. Pada tahapan
ini anggaran lebih diintegrasikan dengan perencanaan stratejik sehingga lebih
mempunyai hubungan yang erat dengan program yang disusun dan dijalankan. Pada
akhirnya kantor dinas pajak pemerintah pusat Amerika Serikat mempunyai misi utama
yaitu lebih berpatokan pada pelanggan
(customer driven)
. Sedangkan 3 visinya yaitu: (1)
Pelayanan terhadap setiap pembayar pajak, (2) Pelayanan terhadap semua pembayar
pajak dan (3) Produktivitas yang dibangun melalui lingkungan kerja yang mempunyai
kualitas tinggi.
Manajemen stratejik juga sudah diterapkan di Indonesia salah satunya adalah dalam
bidang pendidikan. Nawawi (2003) dalam tulisannya Departemen Pendidikan Nasional
sebagai organisasi pengelola melakukan proses manajemen stratejik yaitu dengan
mengendalikan strategi dan dan pelaksanaan pendidikan nasional yang diwujudkan dalam
Sistem Pendidikan Nasional baik secara formal (pendidikan jalur sekolah) maupun
pendidikan non formal (pendidikan jalur luar sekolah). Proses manajemen stratejik
dilakukan dengan efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi yaitu warganegara

atau lulusan yang berkualitas dan kompetitif. Selain itu analisis SWOT sebagai salah satu
alat dalam manajemen stratejik juga sudah diterapkan dalam sistem pendidikan nasional
yaitu dengan adanya pertimbangan sosio kultural yang mewarnai proses dan situasi
pendidikan dan berdampak pada lulusan yang sesuai dengan kebijakan pemerintah
masing – masing daerah atau negara.
Analisis SWOT Sebagai Salah Satu Alat Manajemen Stratejik
Analisis SWOT merupakan salah satu alat dalam manajemen stratejik untuk
menentukan kekuatan
(strength)
, kelemahan
(weakness)
, kesempatan
(opportunity)
dan
ancaman
(threat)
dalam organisasi. Analisis SWOT diperlukkan dalam penyususnan
strategi organisasi agar dapat mencapai tujuan dengan efektif dan efisien. Walaupun
analisis SWOT dianggap sebagai suatu hal yang penting namun kadang kala manajer
menghadapi masalah dalam analisis ini. Masalah – masalah tersebut adalah :
1.
The Missing link Problem
, masalah ini timbul karena hilangnya unsur
keterkaitan, yaitu gagalnya menghubungkan evaluasi terhadap faktor internal dan
evaluasi terhadap faktor eksternal. Kegagalan tersebut akan berimbas pada
lahirnya suatu keputusan yang salah yang mungkin saja untuk menghasilkannya
sudah memakan biaya yang besar.
2.
The Blue Sky Problem
, masalah ini identik dengan langit biru dimana langit yang
biru selalu mebawa kegembiraan karena cuaca yang cerah. Hal ini menyebabkan
pengambil keputusan kadang terlalu cepat dalam menetapkan sesuatu keputusan
tanpa mempertimbangkan ketidakcocokan antara faktor internal dan faktor
eksternal sehingga meremehkan kelemahan organisasi yang ada dan membesar –
besarkan kekuatan dalam organisasi.
3.
The Silver Lining Problem
, masalah yang berkaitan dengan timbulnya suatu
harapan dalam kondisi yang kurang menggembirakan. Hal ini timbul karena
pengambil keputusan mengharapkan sesuatu dalam kondisi yang tidak
menguntungkan. Masalah akan timbul apabila pengambil keputusan meremehkan
pengaruh dari ancaman lingkungan tersebut.
4.
The all Things To All People Problem
, suatu falsafah yang dimana pengambil
keputusan cenderung untuk memusatkan perhatian pada kelemahan
organisasinya. Sehingga banyak waktu yang dihabiskan hanya untuk memeriksa
kelemahan yang ada dalam organisasi tanpa melihat kekuatan yang ada dalam
organisasi tersebut.

5.
The Putting The Cart Before The Horse problem
, Mereka memulai untuk
menetapkan strategi dan rencana tindak lanjut sebelum menguraikan secara jelas
terhadap pilihan strateginya.
Semua kendala diatas haruslah dihindari oleh semua organisasi sektor publik
dalam melakukan analisis SWOT karena sebenarnya analisis SWOT apabila dilakukan
dengan tepat sejak awal akan membantu organisasi sektor publik dalam mencapai visi,
misi dan tujuan yang ditetapkan.
Kesimpulan
Manajemen stratejik sektor publik merupakan salah satu jalan yang terbaik untuk
mencapai
good governance
. Manajemen stratejik sektor publik mengarahkan organisasi
sektor publik untuk melakukan perencanaan manajemen dengan mempertimbangkan
dengan baik faktor – faktor pendukung dan penghambat dalam organisasi melalui salah
satu alat manajemen stratejik yaitu analisis SWOT. Analisis SWOT berusaha untuk
menganalisis faktor pendukung dan penghambat yang ada dalam organisasi kemudian
berusaha menterjemahkannya ke dalam suatu strategi utama untuk mencapai visi, misi
dan tujuan organisasi. Apabila analisis SWOT dijalankan dengan baik dari awal hingga
akhir akan berguna sebagai salah satu alat dalam manajemen stratejik yang dapat
membantu organisasi sektor publik dalam mewujudkan
good governance
.

DAFT AR PUSTAKA
Mardiasmo, 2004,
Akuntansi Sektor Publik
, Andi offset, Yogyakarta.
————-, 2002, Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, Andi Offset,
Yogyakarta.
Nawawi, Hadari, 2000,
Manajemen Stratejik Organisasi Non Profit Di bidang
Pemerintahan dengan Ilustrasi Di Bidang Pendidikan
, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Umar, Husein. 2004,
Strategic Management In Action
, Gramedia, Jakarta.
Rabin et al, 2000,
Handbook Of Strategic Management
, Marcell Dekker, New
York.
Salusu. J, 2003,
Pengambilan keputusan Stratejik Untuk Organisasi Publik dan
Organisasi non profit
, Rasindo, Jakarta.
Sedarmayanti, 2004,
Good Governance (kepemerintahan yang Baik)
, Mandar
Maju Bandung.
Siagian P. Sondang, 2004
, Manajemen Stratejik
, Bumi Aksara, Jakarta
Kliping Media Massa

Kompas 28 Juli 2003

Kompas 13 Maret 2000

Sumber : http://www.icukranggabawono.com/jurnal/Manajemen.pdf